Kami hampir tidak jadi ke Lombok.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena dua minggu sebelum hari H, ada yang mengusulkan ganti destinasi ke Bali saja lebih praktis, lebih banyak pilihan, dan “sudah pasti bagus”. Usulan yang masuk akal secara logika, tapi ada sesuatu dari Lombok yang sejak awal terasa berbeda. Sesuatu yang sulit dijelaskan sampai kami benar-benar menginjakkan kaki di sana.
Keputusan tetap Lombok. Dan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang kami buat sebagai pasangan baru.
Tapi ada keputusan lain yang sama pentingnya yang dibuat lebih diam-diam dan dengan perdebatan yang jauh lebih singkat: kami tidak akan ikut tur paket. Kami akan menyewa mobil sendiri, mengemudikannya sendiri, dan menentukan kemana pergi dan berapa lama di sana sepenuhnya sendiri.
Keputusan itu yang mengubah bulan madu kami dari sekadar “liburan yang bagus” menjadi sesuatu yang masih kami bicarakan sampai sekarang, setahun kemudian.
Kenapa Mobil Lepas Kunci untuk Bulan Madu
Sebelum masuk ke ceritanya, aku mau jawab pertanyaan yang paling sering muncul waktu aku cerita soal ini ke teman-teman yang sedang merencanakan bulan madu: “Bukannya capek kalau nyetir sendiri?”
Pertanyaan yang wajar. Dan aku mengerti logikanya bulan madu seharusnya santai, seharusnya dilayani, seharusnya tidak ada yang perlu dipikir selain menikmati.
Tapi yang aku temukan justru sebaliknya.
Dengan sistem lepas kunci di mana mobilnya ada di tangan kami dan kami yang mengemudikan sendiri tidak ada pihak ketiga dalam dinamika perjalanan kami. Tidak ada sopir yang perlu kami perhatikan kenyamanannya. Tidak ada jadwal yang dibuat oleh orang lain yang tidak kenal kami dan tidak tahu apa yang kami butuhkan dari hari itu.
Yang ada hanya kami berdua, jalan di depan, dan kebebasan penuh untuk memutuskan kapanpun mau berhenti karena matahari terbenam di sisi kanan jalan terlalu indah untuk dilewatkan.
Itu yang membuat bulan madu terasa benar-benar milik kami bukan milik itinerary yang disusun agen wisata.
Persiapan yang Kami Lakukan Berbeda dari Biasanya
Kami mulai perencanaan bulan madu sekitar dua bulan sebelum keberangkatan. Hotel sudah dipilih, tiket sudah dibeli, dan satu-satunya yang masih terbuka adalah transportasi selama di Lombok.
Aku riset beberapa layanan rental. Dari semua yang aku temukan, Lepas Kunci Lombok adalah yang paling sering disebut dengan nada positif di berbagai forum bukan hanya oleh solo traveler atau backpacker, tapi juga oleh pasangan yang ceritanya spesifik soal bulan madu dan perjalanan keluarga. Itu yang membuat rekomendasinya terasa lebih relevan.
Yang paling aku apresiasi dari awal adalah cara mereka merespons waktu aku hubungi. Aku ceritakan bahwa ini untuk bulan madu, rencana kami cukup fleksibel tapi ada beberapa destinasi yang kami prioritaskan, dan kami mau kendaraan yang nyaman untuk perjalanan panjang berdua.
Jawabannya tidak generik. Mereka tanya detail yang menunjukkan mereka benar-benar mendengarkan apakah ada rute ke kawasan pegunungan seperti Sembalun, apakah kami butuh kendaraan yang lebih lega di bagasi karena biasanya pasangan bawa lebih banyak barang, dan apakah ada preferensi soal transmisi.
Dari percakapan itu lahir keputusan untuk ambil unit dengan transmisi matic dan kelas yang sedikit lebih nyaman dari city car standar. Biayanya sedikit lebih tinggi dari pilihan paling murah, tapi untuk sesuatu yang akan menemani kami selama lima hari, itu bukan keputusan yang kami sesali.
Hari Pertama: Tidak Kemana-Mana yang Jauh
Penerbangan kami mendarat siang hari. Mobilnya sudah ada di area penjemputan yang sudah dikoordinasikan bersih, bensin penuh, dan AC dingin begitu kami nyalakan. Tidak ada urusan tambahan, tidak ada yang perlu dinegosiasikan.
Hari pertama kami sengaja buat ringan. Bukan karena tidak bersemangat tapi karena kami tahu energi perlu dijaga untuk hari-hari berikutnya, dan pagi hari penerbangan sudah cukup menguras.
Dari bandara, kami tidak langsung ke penginapan. Kami berkendara ke arah selatan, mampir di satu warung kecil yang kelihatannya sudah buka sejak dini hari dan masih ramai meski sudah lewat makan siang. Nasi campur dengan lauk yang kami tidak semuanya hafal namanya, tapi rasanya yang kami langsung tahu ini bukan masakan yang bisa kami temukan di kota asal.
Setelah makan, kami ke Pantai Kuta Lombok. Tiba sekitar pukul dua siang bukan waktu terbaik untuk foto, cahayanya terlalu keras. Tapi untuk duduk di tepi air dan merasakan angin laut Lombok untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri, waktunya sempurna.
Kami duduk di sana hampir satu setengah jam. Tidak banyak bicara. Tidak foto-foto. Hanya duduk dan membiarkan kenyataan bahwa kami sudah menikah dan sekarang ada di sini benar-benar meresap.
Momen yang tidak ada di itinerary manapun.
Hari Kedua: Tanjung Aan Sebelum Ramai
Kami berangkat pukul enam pagi. Keputusan yang dibuat berdua malam sebelumnya tanpa perdebatan kami sama-sama tahu bahwa pantai terbaik dinikmati sebelum matahari naik tinggi dan sebelum rombongan wisatawan lain berdatangan.
Tanjung Aan di pagi hari adalah sesuatu yang aku tidak bisa deskripsikan dengan cara yang cukup jujur tanpa terdengar berlebihan.
Pantainya belum ada jejak kaki waktu kami sampai. Pasir yang di sebagian area halus seperti tepung dan di sebagian lain berbutir kemerahan itu masih rapi seperti baru disapu. Air lautnya dalam kondisi paling tenang yang kami lihat selama di Lombok hampir tidak ada ombak, permukaannya seperti kaca dengan warna yang bergradasi dari hijau muda di tepi sampai biru tua yang gelap di kejauhan.
Kami berjalan dari ujung ke ujung pantai itu sambil berpegangan tangan. Tidak ada yang meminta kami buru-buru. Tidak ada jadwal yang membatasi berapa lama kami di sini.
Di satu titik, istriku berhenti dan menatap ke arah laut. Lama. Aku tidak tanya apa yang dia pikirkan ada saat-saat di mana pertanyaan lebih mengganggu dari keheningan. Aku berdiri di sebelahnya dan melihat ke arah yang sama.
Kami di sana sampai pengunjung pertama lain mulai berdatangan sekitar pukul delapan pagi. Lalu kami pergi, merasa seperti sudah mendapat sesuatu yang sangat pribadi sebelum tempat itu menjadi milik banyak orang.
Bukit Merese: Sunset yang Tidak Bisa Dipesan
Sore hari kedua kami naik ke Bukit Merese.
Ini yang sudah kami tandai di peta sejak lama sunset spot yang fotonya pernah membuat kami berdua berhenti scrolling di waktu yang berbeda, sebelum saling kenal, dan sekarang kami berdua ada di sini bersama.
Kami tiba sekitar satu jam sebelum matahari turun cukup untuk naik ke puncak dengan santai dan menemukan tempat duduk yang nyaman sebelum keramaian sore datang.
Dari puncak Bukit Merese, yang terlihat adalah sesuatu yang membuat aku mengerti kenapa foto-foto tempat ini selalu kelihatan tidak nyata. Savana yang melengkung ke arah laut, dua pantai di sisi yang berbeda, dan cakrawala yang mulai mengubah warnanya perlahan.
Kami duduk berdampingan di puncak bukit itu. Anginnya cukup kencang untuk membuat rambut istriku terus bergerak ke segala arah, yang membuatnya tertawa kecil dan menyerah untuk merapikannya. Aku tidak bilang apapun hanya melihat dia tertawa di tengah pemandangan yang luar biasa itu dan berpikir bahwa ini adalah salah satu gambar yang paling ingin aku ingat dari seluruh perjalanan ini.
Matahari akhirnya menyentuh cakrawala. Langit berubah menjadi oranye, merah, kemudian ungu yang pelan-pelan padam.
Tidak ada yang bicara selama beberapa menit setelah matahari hilang. Di sekitar kami, pasangan-pasangan lain juga diam. Seperti ada kesepakatan tidak tertulis bahwa momen itu terlalu besar untuk diganggu oleh suara apapun.
Hari Ketiga: Senggigi Pagi dan Sesuatu yang Tidak Direncanakan
Hari ketiga kami arahkan ke utara Senggigi.
Kami berangkat tanpa jadwal yang terlalu ketat. Hanya tahu mau ke Senggigi dan mau ke Air Terjun Sendang Gile di kawasan Senaru kalau energi masih cukup. Sisanya dibiarkan mengikuti apa yang kami temukan di jalan.
Di perjalanan menuju Senggigi, kami melewati kawasan Ampenan bekas pelabuhan tua yang sekarang sudah tidak berfungsi sebagai pelabuhan tapi masih punya jalan-jalan kecil dengan bangunan-bangunan tua berarsitektur campuran yang sangat fotogenik kalau kamu punya waktu untuk masuk ke dalamnya.
Kami berhenti tanpa rencana. Parkir di pinggir jalan, jalan kaki di antara bangunan-bangunan itu, masuk ke satu toko kecil yang dari luar kelihatannya menjual berbagai hal tanpa tema yang jelas. Di dalamnya ada pemiliknya seorang bapak tua yang ternyata senang sekali diajak ngobrol yang akhirnya menceritakan sejarah kawasan Ampenan selama hampir satu jam.
Itu bukan bagian dari rencana hari itu. Tapi justru itu yang paling kami bicarakan malam harinya.
Senggigi sendiri kami nikmati dengan cara yang paling sederhana duduk di kafe kecil pinggir pantai, minum sesuatu yang dingin, dan melihat laut Selat Lombok dari jarak yang bisa kami dengar ombaknya. Di kejauhan, siluet Gunung Agung Bali terlihat samar-samar di cakrawala sebelah barat.
Istriku menunjuk ke arah siluet itu dan bilang, “Tahun depan ke sana?”
Aku bilang, “Tunggu dulu, ini saja belum selesai dinikmati.”
Dia tertawa. Dan itu terasa seperti percakapan yang bisa kami ulang di banyak tempat lain di tahun-tahun mendatang.
Hari Keempat: Menuju Rinjani, Sedekat Mungkin
Hari keempat adalah yang paling kami antisipasi perjalanan ke kawasan Sembalun di kaki Rinjani.
Kami berangkat pukul enam pagi dari Mataram. Perjalanannya panjang hampir tiga jam ke Sembalun tapi karakter jalannya berubah dengan cara yang membuat perjalanannya sendiri jadi pengalaman.
Satu jam pertama melewati kawasan yang masih familier jalan utama yang lebar, persawahan di kanan kiri, sesekali pasar kecil yang sudah ramai meski masih pagi. Tapi begitu masuk ke Lombok Timur dan mulai naik ke arah Sembalun, semuanya berubah.
Jalan mulai berkelok. Udaranya mulai terasa berbeda lebih sejuk, lebih lembab, dengan aroma tanah basah yang khas kawasan yang lebih tinggi. Dan di satu tikungan yang aku tidak akan pernah lupa, Rinjani tiba-tiba muncul.
Bukan muncul pelan-pelan dari kejauhan. Tapi langsung, besar, mengisi hampir seluruh pandangan ke depan dengan cara yang membuat aku reflek menginjak rem sebelum sempat berpikir.
Kami berdua diam.
Istriku yang biasanya yang pertama bereaksi terhadap segala sesuatu tertawa, berkomentar, mengambil ponsel untuk foto tidak melakukan apapun selama beberapa detik. Hanya menatap.
“Aku tidak menyangka sebesar ini,” katanya akhirnya.
Di Sembalun kami habiskan hampir empat jam. Naik ke Bukit Selong yang pemandangannya dari puncak membuat diam lagi untuk yang kedua kalinya hari itu. Makan siang di warung lokal dengan menu yang harganya membuat kami saling pandang karena terlalu murah untuk rasanya yang selezat itu. Dan duduk di satu titik yang dari sana Rinjani terlihat paling tidak terhalang apapun, membiarkan skala gunung itu mengingatkan kami betapa kecilnya manusia dan betapa singkatnya waktu.
Hari Kelima: Perjalanan Pulang yang Tidak Buru-buru
Penerbangan kami sore hari. Jadi pagi terakhir di Lombok kami tidak kemana-mana yang jauh hanya sarapan di warung yang sama dengan hari pertama, jalan-jalan singkat di Senggigi yang sudah mulai ramai, dan beberes penginapan dengan tenang.
Sebelum ke bandara, kami mampir sebentar di pantai terdekat. Bukan untuk foto, tidak untuk momen yang dramatis. Hanya untuk berdiri di tepi air satu kali lagi sebelum pulang.
Istriku mengambil segenggam pasir dan membiarkannya jatuh perlahan di antara jari-jarinya.
“Kita harus balik lagi,” katanya.
Aku tidak menjawab karena jawabannya sudah jelas.
Di perjalanan ke bandara, aku kembalikan mobil di titik yang sudah disepakati. Sebelum menyerahkan kunci, aku duduk sebentar sendirian di bangku pengemudi kebiasaan kecil yang selalu aku lakukan di akhir perjalanan yang berkesan.
Lima hari. Ratusan kilometer. Dan perjalanan bulan madu yang rasanya jauh melebihi semua yang kami rencanakan dari awal.
Bukan karena Lomboknya yang ajaib meski Lombok memang luar biasa. Tapi karena cara kami menjelajahinya memberi kebebasan untuk menemukan hal-hal yang tidak bisa direncanakan. Berhenti di warung yang ternyata paling enak kami temukan sepanjang perjalanan. Mengobrol panjang dengan bapak tua di Ampenan yang tidak ada di itinerary manapun. Diam bersama di Bukit Merese sampai langit benar-benar gelap karena tidak ada sopir yang menunggu di parkiran.
Untuk Pasangan yang Sedang Merencanakan
Kalau kamu sekarang sedang merencanakan bulan madu ke Lombok dan belum memutuskan soal transportasi, ini yang paling ingin aku sampaikan:
Pertimbangkan sistem lepas kunci. Bukan karena lebih murah meski bisa lebih efisien untuk beberapa hari. Tapi karena tidak ada cara lain yang memberikan privasi dan kebebasan yang sama untuk dua orang yang baru memulai perjalanan hidup bersama.
Bulan madu bukan tentang seberapa banyak destinasi yang dikunjungi. Bukan tentang foto yang paling bagus. Bukan tentang itinerary yang paling padat. Tapi tentang momen-momen kecil yang terjadi di antara semuanya yang hanya bisa kamu temukan kalau kamu punya kebebasan untuk berhenti kapanpun, kemana saja, selama yang kamu mau.
Untuk kendaraan yang kami gunakan selama lima hari itu, kami mempercayakan pada layanan sewa mobil Lombok dari Lepas Kunci Lombok. Dari pengalaman itu, tidak ada momen di mana kami menyesal kendaraannya sesuai yang dijanjikan, prosesnya mudah, dan informasi yang mereka berikan sebelum keberangkatan benar-benar membantu kami berkendara dengan lebih percaya diri di pulau yang baru pertama kali kami kunjungi bersama.
Cek ketersediaan dan diskusikan kebutuhanmu di rental mobil Lombok sebelum kamu finalisasi rencana. Ceritakan bahwa ini untuk bulan madu penyedia yang baik akan memberikan rekomendasi yang menyesuaikan.
Lombok sudah menyiapkan segalanya. Kamu tinggal datang dengan cara yang benar dan biarkan pulau ini mengajarkan sesuatu soal bagaimana memulai perjalanan bersama yang paling penting dalam hidupmu.
